Minggu, 21 April 2013

Arti dan Makna Emansipasi

shalat sempurna, shalat nabi, sholat nabi, shalat berjamaah, sholat berjamaah, shalat khusyu, sholat khusyu, tentang shalat, tentang sholat, bacaan shalat, bacaan sholat



Apa yang terbayang di pikiran kita saat mendengar kata “Kartini” atau saat merayakan hari Kartini ? jawabannya pasti : EMANSIPASI WANITA. Dua kata ini akan sangat  POWERFUL  bagi wanita-wanita Indonesia untuk meminta persamaan hak seperti yang didapatkan oleh laki-laki. Siapakah Kartini itu ? apa sebenarnya emansipasi wanita yang dia perjuangkan ? apa hubungannya dengan kehidupan wanita Indonesia sekarang ?

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879. Dia berasal dari golongan keturunan Priyayi atau bangsawan Jawa.  Kartini  digambarkan sebagai wanita lembut, cerdas dan berani mendobrak untuk melakukan suatu perubahan yang lebih baik.

Namun yang paling penting dari semua itu, dia tidak melupakan kodratnya sebagai seorang wanita. Pemikiran-pemikiran kritisnya banyak menyangkut tentang permasalahan sosial pada saat itu, terutama yang menyangkut tentang wanita. Dia adalah seorang pelopor kebangkitan wanita prbumi Indonesia dengan kata sakti yang dibawanya: Emansipasi. 


Arti dan Makna Emansipasi

Konsep emansipasi ini menarik. Apa memang yang namanya emansipasi itu berarti semua sama RATA ? Apa emansipasi itu berarti wanita mendapat hak dan kewajiban yang sama persis seperti yang laki-laki dapatkan ? Dan apa yang namanya emansipasi itu berarti wanita bisa mengerjakan semua yang dikerjakan oleh seorang lelaki ?

Emansipasi bukanlah hal yang patut dilebih-lebihkan, apalagi dijadikan dalih sebagai tameng untuk membela kepentingan pribadi. Kartini sendiri mungkin akan sedih kalau ternyata emansipasi yang dia perjuangkan dipahami secara salah. Konsep emansipasi  lahir karena adanya ketidakadilan yang diberlakukan kepada kaum wanita dan adanya ketidaksamaaan hak yang dimiliki oleh wanita dibanding pria karena alasan GANDER.

Arti emansipasi wanita yang saya pahami adalah suatu persamaan hak yang diberikan kepada kaum wanita tanpa diskriminasi gender. Hak ini harus diberikan secara adil (bukan samapersis) dan proposional. Seorang wanita harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri dan kaum laki-laki menghormati serta memperlakukan wanita sebagai mana mestinya; tidak meremehkan, tidak mengekploitasi, apalagi menyiksa. Wanita merupakan mahluk yang sangat penting bagi laki-laki, pelengkap bagi kaum laki-laki.

Islam sangat menghormati wanita dan menaruh posisi tinggi terhadapnya. Ini terbukti bahwa di dalam Al-Qur’an ada salah satu surat yang namanya An-Nisa yang berarti wanita. Kemudian Rasullah dalam salah satu haditsnya menyampaikan bahwa Surga beradadi bawah telapak kaki seorang wanita mulia bernama Ibu.

Selain itu, pernah ada suatu kisah dimana Rasullah ditanya oleh sahabatnya tentang siapa yang harus dihormati terlebih dahulu di antara Ibu dan ayah, beliau menjawab: “Ibu-mu, Ibu-mu, Ibu-mu, baru kemudian Ayah-mu,”

Allah berfiraman: “Wahai manusia Bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS.An-Nisa [4] : 1)

Dalam ayat tersebut, Islam memandang bahwa wanita adalah pelengkap bagi laki-laki. Allah menjadikan laki-laki dan wanita berpasang-pasangan kemudian memberikan keturunan kepada mereka. Jadi yang namanya pasangan itu sudah pasti berbeda, Seperti sendok dan garpu, hitam dan putih, sikat gigi dan odol, roti dan mentega, dan seterusnya.

Jadi, fungsi keduanya adalah saling melengkapi dan bukan sebagai pengganti. John Gray dalam buku best seller-nya, “Men Are From Mars and Women Are From Venus” juga mengatakan bahwa secara alami laki-laki dan wanita ini adalah dua makhluk ciptaan yang berbeda dengan karakteristik unik, makanya dia mengatakan sejatinya pria dan wanita itu berasal dari dua planet yang berbeda (Mars dan Venus).

Wanita diberikan rahim untuk melahirkan, diberikan kesabaran untuk memberikan rasa tenteram, diberikan kelembutan untuk menyayangi, diberikan kehangatan untuk mencintai, diberikan keindahan untuk menyenangkan hati, serta diberikan ketegaran sebagai penopang yang tangguh bagi pria. Sudah jelas bahwa wanita itu berbeda dengan laki-laki. Mustahil jika wanita ingin diberikan hak yang sama persis dengan laki-laki. Tapi yang tepat adalah, diberikan hak yang adil.

Berbeda dengan laki-laki, Mustahil jiwa wanita ingin diberikan hak sama persis dengan laki-laki. Tapi yang tepat Sebagai penompang yang tangguh bagi pria. Sudah jelas bahwa wanita itu adalah, diberikan hak yang adil.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah Swt., kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain, karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka peroleh bagiannya (usaha) dan bermohonlah kepada Allah dari karunia-nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,”(QS. An-Nisa [4]: 32)

Jadi sudah jelas bahwa laki-laki itu sudah mendapatkan bagiannya sendiri juga. Tidak mungkin wanita menuntut hak yang sama seperti laki-laki.  

Contohnya, ada beberapa pekerjaan wanita tidak bisa lakukan seperti laki-laki, seperti menjadi seorang hakim utamayang memutuskan perkara.

Karena kodratnya wanitalebih menggunakan perasaan dibanding laki-lakiyang lebih menggunakan logika, dan itu akan berpengaruh terhadap keputusan yang diberikan oleh seorang hakim wanita. Akan menjadi tidak lucu kalau tiba-tiba seorang hakim wanita menangis saat mengetok palumemberikan keputusan karena terharu dengan kasus yang dihadapi oleh korban.

Lalu apa emansipasi wanita yang diperjuangkan oleh Kartini dalam memperjuangkan harkat dan martabat kaum wanita Indonesia? Emansipasi yang dibawa Kartini adalah bagaimana kaun wanita pribumi pada saat itu diberikan akses yang sama untuk dapat belajar dan menuntut ilmu seperti pria.

Kartini juga menggugat budaya di jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan bagi wanita untuk mengembangkan diri akibat kungkungan adat yang mengharuskan wanita hanya boleh berada di rumah, tidak boleh sekolah, dan harus setuju dinikahkan dengan siapa pun meskipun menjadi istri kedua, ketiga atau keempat. Istilahnya, tempat wanita itu hanya ada di kasur (melayani suami), dapur (memasak), dan sumur (mencuci). Inilah hal yang ingin diubah dan diperjuangkan Kartini.

Kartini Modern Abad 21 

Kartini modrn abad 21 adalah wanita yang dengan ilmu yang dimilikinya dapat nerkontribusi di bidang yang dia geluti untuk kemajuan bangsa dan negara. Kartini modrn abad 21 adalah wanita cerdas, kritis, tangguh dan siap menghadapi kerasnya dunia dan tanggap terhadap perkembangan zaman.

Kartini modrn abad 21 tidak boleh melupakan kodratnya sebagai seorang wanita. Seorang karyawati yang baru bekerja boleh saja memiliki pekerjaan yang baik dan karier yang cermelang, namun dia tetap tidak boleh melupakan perannya sebagai seorang anak yang harus tetap hormat kepada kedua orang tuanya.

Bagi yang sudah menikah, para Kartini abad 21 boleh saja bekerja dan memiliki karier yang bagus, namun dia tidak boleh melupakan perannya sebagai ibu bagi anak-anaknya dan juga seorang istri bagi suaminya. Dia harus menjadi wanita yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknyadan menjadi istri yang patuh pada suaminya. Setinggi apa pun gaji serta jabatan seorang wanita, secara kodrat tetep harus tunduk dan patuh terhadap suaminya yang menjadi iman dan pemimpin bagi kaun wanita.

Allah Swt berfirman: “ Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu mengapa wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah yang memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka)... (QS. An-Nisa [4]: 34) 

Sebagai penutup, emansipasi wanita merupakan suatu hak yang layak untuk diperjuangkan, namun tidak kebablasan, emansipasi merupakan persamaan hak dan kesempatan yang diberikan kepada wanita dengan cara proposional serta adil, dan bukan sama persis.

Relevansinya dimasa sekarang adalah bagaimana para wanita Indonesia yang hidup di abad 21 ini bisa menjadi Kartini-Kartini baru yang tanggap mengikuti perkembangan zaman, menghasilkan suatu karya, membawa perubahan dan berjuang di bidangnya untuk untuk memberikan kontribusi yang berarti kemajuan bangsa dan negara, dan yang terpenting adalah tetap tidak melupakan kodratnya sebagai seorang wanita.

Selamat Hari Kartini untuk seluruh Wanita Indonnesia!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sering Dibaca

tayangan bulan lalu