Sungguh merugi orang-orang yang riya, salah satunya adalah
orang-orang yang menyebut-nyebut sedekahnya. Ketika ditegur maka
mereka pun berkelit : "kami kan sekedar testimoni, biar orang-orang
pada semanget sedekah kayak kami ini, Allah lebih tahu apa yang kami
niatkan"
Padahal bisikan syaitan itu duahsyat, amal yang kita lakukan
diam-diam tak disebut-sebut pun bisa jadi riya "hebat ya gue, amalnya
gak diliat orang. Berarti gue ikhlas nih hehe"
Sahabatku yang selalu bebersih hati, silakan beramal dan bersedekah
diam-diam atau terang-terangan, tapi janganlah kita hobi
menyebut-sebut sedekah dan amal yang sudah kita lakukan dengan alasan
testimoni atau "tahadduts bin ni'mah" (berbagi kenikmatan).
Rasulullah SAW bersabda : "Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu
(jangan disebut-sebut-pen) sebagiamana engkau menyembunyikan
keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan
amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk
orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk
surga)."(HR. Al-Baihaqi)
Memang sih, dalam Al-Quran disampaikan bahwa sedekah itu boleh
terang-terangan dan boleh diam-diam (Q.S. 2:274). Nah, yang gak boleh
adalah terang-terangan gak mau sedekah atau diam-diam pengennya
disedekahin... Hehehe...
Yang dimaksud sedekah terang-terangan adalah sedekah dengan contoh
yang nyata, bukan malah sibuk menceritakan sedekah yang sudah
dilakukannya secara terang-terangan kepada publik, itu sih namanya
riya ....
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu hilangkan (berkah) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya ... " (Q.S.2:264).
Adapun jika "gak tahan" kepingin testimoni boleh-boleh saja, tapi
yang ditestimonikan harus sedekahnya orang lain, tanpa perlu
disebutkan namanya.
Apalagi kalau sampai kita pamer hitungan sedekah kita kepada
publik, walau dengan niat memotivasi publik "ane kemarin pagi cuman
sedekah 5rb, eh sorenya ane dapet rejeki tak terduga 500rb, sedekah
emang hebat ye, 10 kali lipet sampai 700 kali lipet bahkan lebih"
Perhatikan hadits berikut "Janganlah menghitung-hitung sedekah
sehingga Allah akan membuat perhitungan kepadamu" (H.R. Ibnu Hibban,
Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa'i)
"Memotivasi" orang lain sering dijadikan alasan logis bahwa
"Testimoni Sedekah" itu berguna. Padahal, teknik "membandingkan"
kesuksesan seseorang untuk memotivasi orang lainnya adalah sebuah
motivasi yang kulit banget, gak dalem, sehingga berbahaya.
Dalam teknik kulit ini, rasa yang dibangun biasanya adalah "Dia aja
bisa, masa kamu gak bisa". Dan sebagian yang termotivasi pun mengeluh
"aku sudah sedekah seperti yang dilakukannya, tapi aku malah
bangkrut". Tentu saja keluhan yang begini tidak akan ditestimonikan.
Begini, kalau Anda makan seringkali tujuannya adalah agar bertenaga
sehingga bisa beraktifitas. Dan salah satu efek dari makan adalah
BAB. BAB adalah "efek" bukan "tujuan" dari makan. Jarang orang makan
dengan tujuan utama BAB, sebab BAB itu otomatis jika sudah saatnya.
Dan berdasarkan Q.S.9:103 disebutkan bahwa tujuan dari sedekah
adalah untuk mensucikan jiwa, bukan untuk menarik keuntungan materi
duniawi. Adapun keuntungan duniawi dari sedekah hanyalah "efek" yang
"otomatis" terjadi. Sebagaimana BAB yang otomatis terjadi jika memang
"sudah saatnya".
So, motivasikan diri Anda bersedekah dengan niat untuk membersihkan
jiwa, adapun jika Anda menjadi kaya raya dengan washilah sedekah ini
maka tetaplah bersihkan jiwa Anda, jangan kotori dengan testimoni yang
menghilangkan berkah sedekah Anda.
Dan bagi Anda yang bersedekah tapi belum juga "kaya" berarti memang
"belum saatnya", maka teruslah membersihkan jiwa Anda.Atau bagi Anda
yang baru sedekah sedikit tapi langsung dapat balasannya berlipat
ganda dari Allah, maka jangan merasa suci jiwanya, bisa jadi Anda
sedang "diare", makan baru sedikit tapi BAB nya banyak sekali.
Wallahu a'lam